Ahli
gizi dan dokter sama-sama mulai menemukan bahwa tidak peduli berapa
usia Anda, apakah Anda pria atau wanita, apakah Anda memiliki penyakit
atau sesehat sapi ...
Anda
lihat, setiap hari 63 triliun sel tubuh Anda terus-menerus dibombardir
oleh molekul tidak stabil yang disebut "radikal bebas."
Ketika
sel-sel dalam tubuh Anda menghadapi radikal bebas, reaksi dapat
menyebabkan kerusakan pada sel-sel. Radikal bebas bertanggung jawab
untuk banyak efek penuaan. Molekul-molekul tidak stabil kehilangan
elektron dan "meminjam" mereka dari sel sehat, menghancurkan bahwa sel
dalam proses. Kemudian ini memantul elektron seluruh tubuh Anda, merusak
sel-sel sehat dari tulang, darah, kulit, dan bahkan organ internal
Anda. Radikal bebas akhirnya masuk ke membran sel dan merusak di dalam DNA.
Tapi Ada Apakah Sebuah Senjata Melawan Mereka ...
Semakin
baik Anda dapat melindungi sel-sel Anda, semakin sedikit radikal bebas
dapat merusak mereka. Dan salah satu cara terbaik untuk melindungi
mereka adalah melalui nutrisi padat. Tapi bukan hanya yang biasa-taman berbagai nutrisi ...
Untuk
memerangi rantai radikal bebas, tubuh kita memakai apa yang disebut
antioksidan. Senyawa alami membantu mencegah atau menunda kerusakan
oksidatif pada sel-sel tubuh, dan jaringan. Antioksidan dapat menghambat
efek berbahaya radikal bebas, yang ilmuwan percaya dapat berkontribusi
terhadap tantangan kesehatan yang serius.
Sekarang
beberapa antioksidan yang terkenal. Anda mungkin sudah mendapatkan
banyak dari mereka jika Anda makan diet seimbang yang baik. Sebagai
contoh:
- Vitamin C - Ditemukan di buah jeruk, brokoli, paprika, kale, kembang kol, sayuran berdaun hijau
- Vitamin D - Ditemukan di salmon, ikan tuna, susu, telur, hati, daging sapi, dan bahkan langsung sinar matahari
- Beta karoten -
Ditemukan di kentang manis, wortel, bayam, collard hijau, labu
antioksidan lain lebih terkonsentrasi, tapi agak sulit didapat. Bahkan,
kebanyakan orang tidak mendapatkan hampir cukup ini.
Salah
satu sumber makanan tersebut adalah Manggis, dijuluki "superfruit" dan
"Ratu Segala Buah" karena dari empat kualitas penting:
- Hal ini telah menarik rasa, aroma dan kualitas visual
- Hal ini sangat kaya fitonutrien disebut santon
- Ia memiliki sifat antioksidan yang luar biasa
- Its potensi dampak untuk menurunkan resiko terhadap penyakit manusia
Manggis
telah digunakan selama berabad-abad oleh para praktisi kesehatan di
Asia untuk manfaat yang luar biasa gizi dan rasa lezat.
Postingan lain mengenai Manggis bisa dibaca disini Rahasia Kandungan Gizi Manggis ( Mangosteen ) - Queen Fruits - Ratu Buah
Sekarang Anda dapat Cobalah Vemma
RISIKO-GRATIS!
Berikut adalah beberapa manfaat Program Nutrisi Vemma memberikan keluarga Anda:
- Dokter dirumuskan
- Dikemas dengan antioksidan yang kuat dari berbagai sumber
- Lengkapi multivitamin spektrum penuh
- Vital utama, jejak dan ultra-trace tanaman-sumber mineral
- Kami 30-Hari, "Botol Kosong" Uang Kembali Jaminan
- Lezat dengan hasil yang Anda dapat merasa
Anda berisiko apa-apa, karena anda dilindungi oleh kami ...
Sebagai
Pendiri dan CEO Vemma, saya menerima cerita sehari-hari dari
orang-orang menceritakan betapa Vemma telah membantu membuat perbedaan
positif dalam kesehatan mereka dan kehidupan. Dan, aku ingin kau menjadi
seperti percaya diri! Karena kami ingin semua orang memiliki kesempatan
untuk mencoba ultra-premium kami produk kesehatan, kami menawarkan
bebas risiko, 30-hari "botol kosong" jaminan uang kembali. Jika Anda
tidak mengalami perbedaan positif dalam cara Anda melihat dan merasa,
hanya kembali produk untuk pengembalian dana 100%, bahkan jika botol
benar-benar kosong! Dengan janji ini sederhana, tidak ada alasan untuk
tidak mencoba produk yang luar biasa Vemma dan menemukan mengapa kami
percaya Vemma adalah pilihan yang sangat berharga untuk berinvestasi
dalam jangka panjang kesehatan Anda dan kesehatan. Ini untuk kesehatan
Anda, BK Boreyko Vemma Pendiri dan CEO
Bisa Sehat, Cantik dan penuh energik. Mau beli dengan harga seperti diatas klik aja disini Vemma Nutrition atau untuk bisa menerima email email menggungakan bahasa indonesia, klik disini Successline Builder
Daftar dulu, tunggu email dari Vemma, kemudian upgrade (beli produknya)
Selamat Mencoba. Semoga sukses dan sehat selalu
http://yeniasalui.com
Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika
Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota.
Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu
dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.
Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa
lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh
suaminya dari kampung halamannya.
Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu
berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan
seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu
dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.
Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam
keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya,
dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti
memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.
Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin.
Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata:
"Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan
pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini."
Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.
Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang
seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari
berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila
malam tidur di emperan toko itu.
Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat
mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6
bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan
kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.
Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2
tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali
meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan
mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana,
tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.
Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama
ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup
uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan
angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh
kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7
bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anak nya dengan hati-hati di
dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.. Kemudian, dengan mata
basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong
kulit.
Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu
kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh.
Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar
uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang
moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya
sejauh 300 kilometer ke pusat kota ...
Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya,
menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota . Di situ
gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang
kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah
selama 18 tahun.
Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan
amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh
dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai
bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan
kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.
Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa
kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis
Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan
yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi
impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas
asih, yang bernama Geraldo.
Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta
suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar
yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu.
Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah
kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang
ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayah nya
ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri.
Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri
tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya
tetap kusam.
Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia
mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri
itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu
mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh
barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat
pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas
kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan
emas murni.
Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan
benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya
menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu
didekat foto.
Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air
matanya berlinang . Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah
dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum
dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu
lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya
annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang
tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya..
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di
benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada.
Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya
tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang
dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat
dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.
Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang
membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah
ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"
Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa laluSerrafonna. Foto
hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke
seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari
bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan
dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan
sipil.
Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti
orang jompo dan badan-badansosial di seluruh negeri dan mencari data tentang
seorang wanita.
Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari
seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90
juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk
menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus
meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih
daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia
berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa
mengabaikannya selama seperempat abad.
Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya
sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya
mengangguk-angguk penuh pengertian.
Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan
terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan
mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerimakabar bahwa ada seorang wanita
yang ungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka
terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari
kota mereka.
Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini
terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus,
wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi
jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.
Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan
potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya.
Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan
malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.
Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk
mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian
kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup
sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.
Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka
menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih,
Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu
Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi."
Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan
banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua
anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil
berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan
berikut nya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan
yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa
mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu,
sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani
mama. Saya akan melakukan apa saja".
Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui
kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan
saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh
derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia
mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau
sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan
". Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat
sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.
Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan
yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu,
di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong
plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian
sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.
Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di
belakang mereka sebuah ambulansberhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain.
Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu.
"Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang. Pandangan Serrafona
gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih esadarannya dan turun.
Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.
"Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan
hatimu ."
Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan
kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kaki nya dan ingat ketika ia belajar
berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan nya pada masa
kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan
sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk
mendekat.
"Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari......
Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa
selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia....Jadi mama tidak menyia-nyia kan
saya".
Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan
membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju
mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh
air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.
"Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang
ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar
dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann
ya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.
Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak sebentuk anting-anting yang
sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia
berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.
"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi
dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan,
ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi
dulu... Mama..."
Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada
Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja....
...satu jam saja....."
Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang
membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat
abad tidak berakhir sia-sia.
Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup ditengah kemewahan dan
kondisi berkecukupan. Mungkin kita
mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun
yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita,
meski itu hanya di peraduan...